Masa Disintegrasi dan Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil

     Masa Disintegrasi Kekhalifahan Bani Abbasiyah dimulai ketika banyak provinsi yang melepaskan diri dari Dinasti Abbasiyah. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan perang politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan Bani Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang politik. Kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyyah. 
     Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode: 
  • Periode pertama (132 H/750M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama. 
  • Periode kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama. 
  • Periode ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan Dinasti Buwaih dalam pemerintahan Khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. 
  • Periode keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. 
  • Periode kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khilafah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad 
        Pada pemerintahan Harun Ar-Rasyid (786-809 M/ 170-194 H) dikatakan bahwa pada saat itu terjadi masa keemasan Bani Abbasiyyah. Tetapi pada saat ini mulai terjadi masa disintegrasi tepatnya saat penurunan tahta. Harun Ar-Rasyid telah mewariskan tahta kekhalifahan pada putra tertuanya Al-Amin (809-812 M/ 194-198 H.) dan kepada putranya yang muda yaitu al-Ma’mun yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Khurasan. Setelah wafatnya Harun Ar-Rasyid, Al-Amin berusaha menghianati adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai penggantinya kelak. Akhirnya pecah perang saudara dalam memperebutkan kekuasaan. Al-Amin didukung oleh militer Abbasiyah di Baghdad, sementara Al-Ma’mun harus berusaha memerdekakan khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khuarasan. Al-Ma’mun akhirnya mengalahkan saudara tertuanya Al-Amin dan mengklaim khalifah pada tahun 831 H. 
         Pada masa kekhalifahan Al-Ma’mun (198-218 H./813-833 M.) juga terjadi disintegrasi yang menyebabkan munculnya dinasti Thahiriyah, dan yang didirikan oleh Thahir, dia adalah mantan gubernur Khurasan dan menjadi jendral militer Abbasiyah, karena membantu merebut kekuasaan Al-Amin. Kekuatan sentrifugal di provinsi-provinsi berpengaruh terhadap melemahnya kekuasaan Khalifah. Pada zaman Khalifah Al-Mu’tasim, khalifah  mendirikan kekuasaan militer bagi orang-orang Turki dan mendirikan Garnisun Samarra (836 M) sebagai tempat hunian baru. Kemunduran yang terjadi di Bagdad mendatangkan bencana juga terhadap Al-Mutawakkil (847-861 M) dan penerusnya hanya untuk menjadi alat politik kekuasaan Turki. Selain itu, pembiayaan militer yang besar memicu kehancuran keuangan negara. 
   Gerakan-gerakan politik yang menganggu stabilitas berasal dari internal Bani Abbas sendiri, sisa kekuatan Bani Ummayah, revolusi Al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindik di Persia, Gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa serta aliran pemikiran tentang keagamaan. Namun kesemuanya dapat dipadamkan. Bermunculan kekuatan-kekuatan politik baru selain otoritas pemerintah pusat di Bagdad, sedikit banyak menjadi hambatan bagi para khalifah. 
   Namun setelah mendapat prestasi yang gemilang Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran. Kekhalifahan Abbasiyah dibumi hanguskan oleh tentara Mongol dibawah Hulagu Khan pada tahun 1258 M. Semua bangunan termasuk istana emas tersebut dihancurkan oleh tentara Mongol, meruntuhkan perpustakaan yang merupakan gudang ilmu, dan membakar buku-buku yang ada di dalamnya, Pada tahun 1400 M, kota ini diserang pula oleh pasukan tentara Timur Lenk, dan pada tahun 1508 M oleh tentara kerajaan Safawi. 
   Ada beberapa factor penyebab terjadinya disintegrasi baik dalam segi internal maupun eksternal. 
  1. Faktor Internal, Secara umum, faktor internal ini ada dua hal, yaitu politik dan ekonomi. Kedua faktor ini sebagai penyebab mundur dan jatuhnya Abbasiyah yang berkuasa selama 508 tahun itu
  2. Faktor eksternal yaitu adanya Perang Salib dan serangan pasukan Mongol 
          Akhir dari Kekuasaan Dinasti Abbasiyah ialah ketika bagdad dihancurkan para pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan, 656 H/1258 M. Huagu Khan adalah seorang saudara Kubilay Khan yang berkuasa di Cina hingga ke Asia Tenggara, dan saudara Mongke kan yang menugaskan untuk mengembalikan wilayah-wilayah sebelah Barat dari Cina ke pangkuannya. Bagdad dibumi hanguskan dan diratakan dengan tanah.  Khallifah Bani Abbasiyah yang terakhirdengan keluarganya, Al-Mu’tashim Billah dibunuh, buku-buku yang  terkumpul di Baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut yang jernih bersih menjadi hitam kelam karna lunturan tinta yang ada pada buku-buku itu. Dengan demikian, lenyaplah  Dinasti Abbasiyah yang telah memainkan peran penting dalam percaturan kebudayaan dan peradaban Islam dengan gemilang. 

Komentar