Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Safawi Di Persia
Sesudah kekhalifahan Abbasiyah runtuh, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran. Keterpurukan umat Islam dalam dunia politik tersebut mulai bangkit kembali dan mengalami kemajuan setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar Islam, yaitu Dinasti Turki Utsmani di Turki, Dinasti Safawi di Persia, dan Dinasti Mughal di India.
Munculnya Dinasti Safawi didasari dua hal yaitu; lahirnya kembali Dinasti Safawi merupakan kebangkitan kembali kejayaan Islam, setelah sebelumnya pernah mengalami masa kecemerlangan; Dinasti Safawi telah memberikan kepada Iran semacam “negara nasional” dengan identitas baru, yaitu aliran Syi’ah yang merupakan landasan bagi perkembangan nasionalisme Iran modern.
Pada mulanya di Persia tepatnya di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan, terdapat sebuah gerakan thariqat yang diberi nama Shafawi (Ash-Shafawiyah). Thariqat ini didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya Dinasti Utsmani. Nama Safawi disandarkan kepada pendiri thariqat tersebut yang bernama Syaikh Shafi al-Din Ishaq al-Ardabil (650-735 H/ 1252-1334 M). Berbeda dengan Dinasti besar Islam lainnya, Dinasti Safawi menyatakan Syi’ah sebagai mazhab negara.
Fanatisme pengikut tarekat Safawiyah yang menantang golongan selain Syi’ah mendorong gerakan ini memasuki gerakan politik. Kecenderungan terhadap politik terwujud pada masa kepemimpinan Junaid (1447-1460 M) dimana sang imam menambahkan gerakan politik selain gerakan keagamaan. Sepeninggal imam Junaid, pemimpin tarekat Safawiyah digantikan oleh anaknya yang bernama Haidar. Atas persekutuan dengan ak-Koyunlu, Haidar berhasil mengalahkan kekuatan ak-Koyunlu dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1476 M. kemenangan ini membuat nama Safawiyah semakin besar, dan hal ini tidak dikehendaki oleh ak-Koyunlu. Persekutuan antara Safawiyah dengan ak-Koyunlu berakhir oleh sikap ak-Koyunlu memberikan bantuan kepada Sirwan ketika terjadi pertempuran antara pasukan Haidar dengan pasukan Sirwan. Pasukan Safawiyah mengalami kehancuran, dan Haidar sendiri terbunuh dalam pertempuran ini.
Kekuatan Safawiyah bangkit kembali dalam kepemimpinan Ismail. Selama lima tahun, ia mempersiapkan kekuatan dengan membentuk pasukan Qizilbash (pasukan baret merah) yang bermarkas di Gilan. Pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash berhasil mengalahkan ak-Koyunlu dalam peperangan di dekat Nakhchivan dan berhasil menaklukan Tibriz, pusat kekuasaan ak-Koyunlu. Di kota ini Ismail memproklamirkan berdirinya kerajaan Safawiyah dan menobatkan diri sebagai raja pertamanya.
Para pemimpin Dinasti Safawiyah periode awal adalah sebagai berikut:
1. Shafi al-Din (1252-1334 M)
2. Sadar al-Din (1334-1399 M)
3. Khawaja Ali (1399-1427 M)
4. Ibrahim (1427-1447 M)
5. Junaid (1447-1460 M)
6. Haidar (1460-1494 M)
7. Ali bin Haidar (1494-1501 M)
8. Ismail bin Haidar (1501-1524 M)
Para pemimpin Dinasti Safawi periode kedua:
1. Ismail I (1501-1524 M)
2. Tashmap I (1524-1576 M)
3. Isma’il II (1576-1577 M)
4. Muhammad Khudabanda (1577-1587 M)
5. Abbas I (1587-1628 M)
6. Shafi Mirza (1628-1642 M)
7. Abbas II (1642-1667 M)
8. Sulaiman (1667-1694 M)
9. Husein (1694-1722 M)
10. Tashmap II (1722-1732 M)
11. Abbas III (1732-1736 M)
2. Tashmap I (1524-1576 M)
3. Isma’il II (1576-1577 M)
4. Muhammad Khudabanda (1577-1587 M)
5. Abbas I (1587-1628 M)
6. Shafi Mirza (1628-1642 M)
7. Abbas II (1642-1667 M)
8. Sulaiman (1667-1694 M)
9. Husein (1694-1722 M)
10. Tashmap II (1722-1732 M)
11. Abbas III (1732-1736 M)
Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan Dinasti Safawi. Peradaban Islam pada masa Dinasti Safawi diantaranya:
- Perkembangan perekonomian Safawi adalah dikuasainya Kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas pada masa Abbas I.
- Muncul ilmuwan seperti Baha al-Din asy-Syaerozi, Sadar al-Din asy-Syaerozi, Muhammad al-Baqir al-Din Ibn Muhammad Damad, masing-masing ilmuwan di bidang filsafat, sejarah, teologi dan ilmu umum.
- Pada perkembanagan filsafat sendiri pada masa Dinasti Safawi ada dua perkembangan filsafat yaitu filsafat isyraqi yang dibawa oleh Suhrawadi dan filsafat Peripaterik yang dikembangkan oleh Aristoteles dan al-Farabi. Filsafat paripaterik dicetuskan oleh Aristoteles dengan ciri khas dari berbagai sudut pandang metodologi dan epistimologinya. Filsafat peripaterik bersifat diskursif yang menggunakan kemampuan akal dalam proses penalarannya. Filsafat Isyaqi dicetuskan oleh Suhrawadi dengan ciri khas menekankan penalaran rasional sebagai metode berfikir dan pencarian pemikirannya.
- Kemajuan seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah ibukota kerajaan ini, misalnya sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang di atas ZandeRud dan istana Chihilsutun. Pembentukan ibukota baru yang besar oleh Abbas I yaitu kota Isfahan.
Sepeninggal Abbas I Dinasti Safawi lemah sehingga tidak mampu mempertahankan masa kejayaan kerajaan. Safi mirza adalah cucu dan sekaligus pengganti Abbas I. Sejak masa ini beberapa wilayah Safawiyah terlepas oleh penguasa lain, misalnya kota Qandahar (sekarang termasuk wilayah Afghanistan) lepas dari kekuasaan Dinasti Safawi, diduduki oleh kerajaan Mughal ketika itu dipimpin oleh Sultan Syah Jehan. Kemudian Ervan, Tibriz dan Baghdad direbut oleh pasukan Utsman antara tahun 1635-1637 M.
Terdapat sejumlah sebab yang turut menyokong kemunduran Dinasti ini, selain faktor ketidakcocokan sejumlah raja setelah Abbas I hingga pada akhirnya membawa kepada kehancurannya. Sebab tersebut antara lain adalah konflik militer yang berkepanjangan dengan Dinasti Utsmani. Berdirinya Dinasti Safawiyah yang beraliran Syi’ah dipinang oleh Dinasti Utsmani sebagai kekuatan yang mengancam kekuasaannya. Kemerosotan aspek kemiliteran ini sangat besar pengaruhnya terhadap lenyapnya ketahanan dan pertahanan kerajaan Safawi.
Komentar
Posting Komentar