Peradaban Islam pada Masa Dinasti Bani Umayyah I
Asal mula didirikannya kekhalifahan Bani Umayah tidak terlepas dari adanya perang Shiffin yang berujung pada peristiwa Tahkim di Daumatul Jandal. Peristiwa itu mendapatkan pengaruh yang sangat besar mengenai dunia perpolitikan islam pada saat itu. Sosok Muawiyah bin Abu Sufyan yang sebenarnya sudah sangat menginginkan kekuasaan saat Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan alih mengusut pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang pada dasarnya tidak terlepas dari hasutan berbagai pihak kenapa Muawiyah melakukan hal tersebut. Pada akhirnya pemerintahan Khalifah Ali bin Thalib berakhir karena Khalifah Ali di bunuh yang sebelumnya pembunuhan tersebut sudah direncanakan oleh pihak Khawarij yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Abu Muljam. Kemudian Khalifah Hasan bin Ali di baiat oleh pihak warga Kuffah saat itu karena menjaga kekosongan pemerintahan dan membuat geram pihak Muawiyah bin Abu Sufyan karena sebenarnya itu momentum ia mengambil alih kekuasaan umat islam. Hingga pada akhirnya untuk mengakhiri pertikaian antar umat islam saat itu, khalifah Hasan menyerahkan kekhalifahannya kepada Muawiyah dan kemudian berakhirlah masa Khulafaur Rasyidin dan dimulailah era pemerintahan baru dengan sistem corak baru yaitu monarchy absolut atau sistem kerajaan dimana nantinya sistem pemilihan Khalifah tidak lagi berdasarkan suara rakyat tetapi diturunkan turun menurun ke anak atau putra mahkotanya. Pemerintahan Muawiyah ini kemudian yang kita kenal dengan nama Dinasti Umayah yang beribukota resmi di Damaskus yang sebelumnya beribukota di Kuffah.
Bani umayah berkuasa dari tahun kurang lebih 90 tahun yaitu dari tahun 661-750 M, dan khalifah-khalifah yang menjabat pada Dinasti Bani Umayah ini adalah sebagai berikut:
- Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (41-60 H atau 661-689 M)
- Yazid ibn Mu’awiyah atau Yazid I (60-64 H atau 680-683 M)
- Mu’awiyah ibn Yazid atau Mu’awiyah II (64 H atau 683-684 M)
- Marwan ibn Alhakam atau Marwan I (64-65 H atau 684-685 M)
- Abdul Malik ibn Marwan (65-86 H atau 685-705 M)
- Al Walid ibn Abdul Malik atau Al-Walid I (86-96 H atau 705-715 M)
- Sulaiman ibn Abdul Malik (96-99 H atau 715-717 M)
- Umar ibn Abdul Aziz (99-101 H atau 717- 720 M?Yazid ibn Abdul Malik atau Yazid II (101-105 H atau 720-724 M)
- Hisyam ibn Abdul Malik (105-125 H atau 724-743 M)
- Al- Walid ibn Wazid atau al-Walid II (125-126 H atau 743-744 M)
- Yazid ibn Al-Walid atau Yazid III (126 H atau 744 M)
- Ibrahim ibn Al-Walid (126 H atau 744 M)
- Marwan ibn Muhammad atau Marwan II (126-132 H atau 744-750 M)
Masa keemasan Dinasti Umayah adalah terletak pada zaman Khalifah Umar II atau Umar bin Abdul Aziz dimana pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini bisa dikatakan sangat mirip sekali dengan pemerintahan masa Rasulullah SAW dan Khulafaur-Rasyidin. Ia adalah sosok yang sangat bersahaja dan dalam memerintah dan penegakan ia tidak pandang bulu baik ke rakyat maupun kalangan konglomerat. Bisa dibilang waktu yang amat singkat pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang hanya kurang lebih 3 tahun tersebut rakyat sangat makmur dan berkecukupan sehingga pernah diriwayatkan bahwa pada masa tersebut petugas zakat bahkan bingung untuk memberikan mustahiq zakat ke siapa karena pada saking makmurnya dan sejahtera pada saat itu. Selain dari itu juga prestasi yang ditorehkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah tentang perintisan pembukuan Hadits Nabi SAW.
Selain dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Khalifah yang berprestasi lainnya adalah Muawiyah bin Abu Sufyan dimana ia mulai mengembangkan ekspansi perluasan wilayahnya ke wilayah timur yaitu sampai ke Afganistan dan mulai mekaukan serangan-serangan ke Byzantium. Pada masa Khalifah Abu Malik bin Marwan ekspansi wilayahnya sampai ke daerah India. Pada masa Khalifah Walid bin Abdul Malik dimana asal mula pemerintahan yang adil dan makmur pada dimulai sebelum pada akhirnya bisa dibilang mencapai puncaknya pada masa Khalifah Umar II. Pada masa Khalifah Al-Walid melakukan ekspansi wilayah sampai ke Afrika Utara menuju wilayah barat daya dan sampai ke benua Eropa. Yang paling bersejarah adalah tentang penaklukan Spanyol atau Andalusia saat itu oleh panglima Thariq bin Ziyad yang merupakan asal muasal berkembangnya ajaran islam di spanyol yang berpusat di Cordova. Perjuangan Thariq bin Ziyad tersebut sampai di abadikan dalam menamai selat antara Maroko dan Spanyol tersebut yang disebut Selat Jabal Thariq yang pada akhirnya kita kenal saat ini adalah selat Gibraltar. Pada zaman Khalifah Umar II juga melakukan ekspansi ke wilayah Prancis dan pulau-pulau di Laut Tengah atau Mediterania.
Bani Umayah juga berjasa dalam bidang pembangunan dan aspek-aspek lainnya. Untuk pembagian pemerintahan bani Umayah membagi wilayah kekuasaan Negara Islam diluar wilayah Syria menjadi 5 wilayah besar, yaitu:
- Hijaz, Yaman, dan Arab Tengah;
- Mesir (Mesir atas dan bawah);
- Wilayah Irak;
- Negeri Jazirah (Lembah antara dua sungai Eufrat dan Tigris);
- Wilayah yang sangat penting, yaitu Afrika Utara, Andalusia, pulau-pulau Sisilia, Sardalia, Bilyar.
Sistem pemerintahan yang dibuat pada Kekhalifahan Dinasti Umayah adalah sebagai berikut:
- Khalifah (Kepala Negara).
- Para Gubernur (Kepala distrik yang berkedudukan kota besar).
- Sekretaris yang bertugas menulis surat atas nama Khalifah dan mengepalai urusan sekretariat Negara.
- al-Hajib yaitu pembantu khusus Khalifah.
- khazim yang bertugas mengurus Bait al-Mal (perbendaharaan Negara).
- Qadhi (hakim) yang memutuskan perkara yang diperselisihkan
Kantor kantor yang didirikan dalam menjalankan stabilitas dalam negeri yang dibuat oleh Bani Umayah adalah sebagai berikut:
- Diwan al-Kharaj (Kantor Pajak)
- Diwan al-Rasa’il (Kantor surat-menyurat)
- Diwan al-iradat al-Munawwa’ah (Kantor Pendapatan Negara)
- Diwan al-Khatam (Kantor Arsip Negara)
Sistem Pegawai Tinggi yang dibuat pada Masa Pemerintahan Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
- Al-Amir atau al-Wali (Gubernur)
- Petugas Shalat
- Petugas Pajak
- Amil al-Shadaqah (Pengumpul sedekah)
- Al-Katib (Sekretaris)
- Al-Hajib (pelayan khusus khalifah, pengawal)
Sistem Peradilan yang dibuat pada Masa Pemerintahan Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
- Peradilan Islam pada Masa Pemerintahan Bani Umayyah
- Hisbah (Peradilan Pasar)
- Qadha’ al-Mazhalim (Peradilan Pidana)
Dari sistem Qadha’ al-Mazhalim itu dikelompokan lagi menjadi:
- Al-Humah wa al-A’wan (penjaga dan tokoh masyarakat)
- Al-Qudhah wa al-hukkam (hakim dan pemerintah)
- Al-Fuqaha’ (ahli fikih)
- Al-Kuttab (para sekretaris)
- Al-Syuhud (para saksi)
- Al-Syurthah (Polisi)
Sistem Ketentaraan dan Peperangan pada Masa Pemerintahan Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
- Sistem Ketentaraan dan Peperangan
- Angkatan Laut
- Armada Syria, berpusat di al-Laziqiyah
- Armada Afrika, berpusat di Tunis
- Armada Mesir, berpusat di Iska ndaria
- Armada Nil, berpusat di Babiliyon, dan
- Armada khusus di muara Sungai Nil untuk berjaga-jaga dari kemungkinan serangan Byzantium terhadap pesisir wilayah Islam
Selain dari penataan administrasi dan keamanan, pada masa Bani Umayah juga telah memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan, membangun panti-panti jompo dan orang cacat serta pekerjanya digaji oleh negara secara tetap. Jalan-jalan raya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan, sekolah-sekolah dan universitas, baitul hikmah atau pusat keilmuan pada masa itu dan masjid-masjid megah dibangun pada masa pemerintahan Bani Umayah.
Setelah Khalifah Umar II wafat maka terjadi kekecauan kembali di pemerintahan Bani Umayah dimana pada saat itu pemerintahan dilanjutkan oleh Yazid bin Abdul Malik (720-724 M). Adapun faktor-faktor lain yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran Dinasti Bani Umayyah, antara lain:
- Sistem pergantian khalifah (keturuan) tidak jelas (persaingan keluarga).
- Sisa-sisa Syi’ah dan Khawarij melakukan gerakan oposisi.
- Pertentangan etnis antara Bani Qays (suku Arabia Utara) dan Bani Kalb (suku Arabia Selatan).
- Ketidakpuasan golongan mawali karena dianggap inferior.
- Sikap hidup mewah di lingkungan keluarga istana.
- Serangan dari keturunan Al-Abbas ibn Abdul Al-Muthalib (didukung Bani Hasyim, Syi’ah, dan Mawali). Permusuhan lama antara orang Turki dan Persia kembali bergejolak. Abu Muslim Khurasani mengumumkan atas nama khalifah Abbasiyah pada tahun 747 M menggoyahkan posisi Marwan II. Puncak peperangan ini adalah ketika Marwan II dan pasukannya menghadapi kesatuan pasukan Abbasiyah yang didalamnya terdapat orang Syi’ah, Khawarij, dan kelompok serta suku-suku yang lain termasuk mawali. Mereka sangat menonjolkan dukungannya terhadap Abbasiyah
Komentar
Posting Komentar