Peradaban Islam pada masa Khulafaur Rasyidin masa Kejayaan Islam Pertama
Khulafaurrasyidin (632 M-661 M) berasal dari dua kata yaitu kata “khulafa” yang artinya pemimpin dan “rasyidin” yang artinya baik. Jadi khulafaur rasyidin itu adalah para pemimpin yang baik pasca kepemimpinan Rasulullah SAW. Untuk Khulafaur Rasyidin itu sebenarnya ada lima orang namun pada masa khalifah kelima yaitu Khalifah Hasan bin Ali yang hanya 6 atau 7 bulan pada tahun 661 M tidak tuntas dalam kepemimpinannya karena ia memberikan kepemimpinannya kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Jadi Khalifah yang kita kenal saat ini ada 4 yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq (masa pemerintahan 2 tahun 75 hari yaitu pada 8 Juni 632 M/11 H sampai 22 Agustus 634 M/13 H), Umar bin Khattab (masa pemerintahan 10 tahun 72 hari yaitu pada 23 Agustus 634 M/13 H sampai 3 November 644 M/23 H), Utsman bin Affan (11 tahun 222 hari yaitu pada 11 November 644 M/23 H sampai 20 Juni 656 M/35 H), dan Ali bin Abi Thalib (4 tahun 223 hari yaitu pada 20 Juni 656 M/35 H sampai 29 Januari 661 M/40 H).
Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq (lahir 573 M dan wafat 22 Agustus 634 M) dilantik sebagai khalifah pertama pasca Rasulullah SAW wafat dimana pada saat itu pembaiatan Abu Bakar dikarenakan perseteruan antara kaum Anshar dan Muhajirin dalam merembukan siapa pemimpin kaum muslimin pasca Rasulullah wafat. Pada saat itu kaum Anshar menunjuk Sa’ad bin Ubadah yang pada waktu itu berkumpul di saqifah Bani Sa’idah. Mendengar peristiwa tersebut berangkatlah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah Bin Jarah ke tempat tersebut. Setelah melihat kondisi memanas satu sama lain dan untuk menghindari terjadinya perpecaham, maka Umar meminta Abu Bakar mengulurkan tangannya yang kemudian diikuti oleh Kaum Muhajirin dan disusul kaum Anshar membaiat Abu Bakar Ash-Shidiq sebagai Khalifah.
Banyak sekali kebijakan-kebijakan saat pemerintahan Khalifah Abu Bakar diantaranya: penataan birokrasi pemerintahan yang menganut sistem sentralisasi seperti pemerintahan Rasulullah SAW; memerangi nabi palsu yaitu diantaranya Aswad Al-Ansi dari Yaman, Musailamah Al-Kazzab, Thulaihah dan Saja’ah binti Al-Harits; memerangi kaum murtad;dan memerangi kelompok yang enggan membayar zakat; pelantikan 11 kepala batalion; ekspansi wilayah ke berbagai wilayah diantaranya penaklukan di Irak dimana ada perang Dzatu Salasil, perang Al-Madzar, perang Walajah, dan perang Ullais serta penaklukan di Syam;Kodifikasi Al-qur’an dimana ini atas usul Umar bin Khattab dikarenakan banyaknya para golongan syahid dari kalangan huffadz; dan mendirikan baitul mal.
Abu Bakar Ash-Shidiq meninggal dikarenakan demam selama 15 hari tepatnya ia wafat pada usia 63 tahun yang bertepatan pada Senin malam tanggal 23 Agustus 634 M atau 17 Jumadil Akhir di Madinah. Ia dimakamkan di dekat makam Rasulullah SAW. Pada akhir hayatnya, Abu Bakar Ash-Shidiq berpesan untuk memberikan jabatan kekhalifahannya kepada Umar bin Khattab.
Khalifah Umar bin Khattab Khalifah Umar Bin Khattab(lahir tahun 584 M dan wafat pada tanggal 3 November 644 M) lahir dari keturunan mulia dan bertemu nasabnya dengan Rasulullah SAW pada nasab ke-9. Dua terkenal sebagai sosok yang keras dan keras hati. Pada masa sebelum ia mengenal Islam ia sangat memusuhi Islam dan banyak menyiksa kaum mukminin. Umar bin Khattab masuk islam berkat do'a Rasulullah SAW yang dimana ia dalam do'anya meminta Allah untuk bisa menguatkan islam yaitu Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam dan do'a nabi di kabulkan oleh Allah SWT dimana Umar bin Khattab yang masuk islam dan berperan penting dalam dunia peradaban islam.
Umar bin Khattab diangkat khalifah karena ditunjuk oleh Abu Bakar menjadi khalifah karena ditakutkan seperti pada pengalaman pengangkatan Khalifah pasca nabi wafat. Walaupun ia berwatak keras, tetapi ia adalah pemimpin yang baik, adil dan bijaksana serta jauh dari kata otoriter. Beberapa kebijakan pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab adalah: penataan administrasi pemerintahan dimana pada poin ini ia menerapkan pemerintahan seperti negara maju dengan dibuatnya iqlim (provinsi) dan distrik dan diangkatnya pejabat di setiap distrik/provinsinya yang biasa kita sebut gubernur pada saat ini; penanggalan Hijriah, ini adalah kebijakan terbesar yang dibuat oleh Khalifah Umar karena pada saat itu bermula tentang dokumen yang berselisih masalah penanggalan sura hingga akhirnya ditetapkanlah kalender Hijriyah sebagai tahun resmi penanggalan islam yang dicetus oleh Ali bin Abi Thalib yang di ambil penanggalannya pada saat Nabi Hijrah; Melakukan ijtihad; Ekspansi wilayah, dimana pada masa Khalifah Umar berhasil menguasi Damaskus(635 M), Memenangkan peperangan Yarmuk yang menjadikan Syiria jatuh ke pemerintahan islam (636 M), Perluasan wilayah me Mesir dan Irak(640-641 M), dan penaklukan Yerusalem.
Khalifah Umar wafat pada tahun 3 November 644 M dalam keadaan syahid dimana ia wafat oleh seorang budak Majusi yang bernama Abu Lu'luah Fairuz disuatu subuh saat sedang shalat di mihrab. Kemudian ia dimakamkan di samping kedua shahabatnya yaitu Nabi Muhammad SAW dan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Khalifah Utsman bin Affan(Lahir pada 579 M dan wafat pada 20 Juni 656 M). Ia merupakan salah satu shahabat nabi yang dianugerakan oleh Nabi dengan gelar “Dzun Nuraeni” yang artinya “Yang memiliki dua cahaya” karena ia dapat anugerah untuk menikahi dua puteri nabi yaitu Zainab dan Ruqoyah dan yang dua kali hijrah yaitu hijrah ke Habsyi dan Madinah. Ia diangkat menjadi khalifah menjelang usia 70 tahun dimana pada waktu itu khalifah Umar bin Khattab mewasiatkan kepada kaum muslimin untuk memilih diantara 5 pemimpin islam ini yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqas, Zubair bin Awwam dan Abdurahman bin Auf. Dan saat voting di ambil oleh kaum muslimin dan terpilihlah Utsman menjadi khalifah. Ia seorang yang sangat kaya raya tetapi berlaku sederhana, sangat pemalu, lemah lembut, dan dermawan. Ia selama hidupnya menggunakan seluruh hartanya untuk kepentingan islam.
Kebijakan sistem pemerintahan pada zaman Utsman bin Affan diantaranya: perluasan wilayah islam dimana islam sudah menguasai Mesir dan Irak dan salah satu yang paling terkenal dalam perluasan wilayah pada khalifah Utsman adalah adanya perang Zatis Sawari (peperangan tiang kapal) yang terjadi di dekat kota Iskandariyah di laut Tengah yang merupakan peperangan di laut pertama oleh kaum muslimin sehingga pada akhirnya islam bisa menaklukan Kota Basrah dan sisa wilayah kerajaan Sassanid Irak dan beberapa provinsi fi sekitar laut Kaspia; penyusunankitab suci Al-Quran, dimana ini adalah karya monumental pada zaman Utsman bin Affan dimana bermula pada perselisihan tentang pembacaan ayat suci Al-Quran dikalangan kaum muslimin sehingga disusunlah penyusunan Al-Quran uang yanh diketuai oleh Zaid bin Tsabit dan dikirimkan ke berbagai wilayah kegubernuran sebagai pedoman yang benar untuk masa selanjutnya; penyebaran ilmu-ilmu islam; pembukuan Al-Quran, dimana sangat berpengaruh dalam dunia islam dimana khalifah Utsman melanjutkan usaha pembukuan Al- Quran pada zaman khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dulu di titipkan kepada istri Nabi Hafshah binti Abu Bakar, diketuai oleh Zaid bin Tsabit dan di kirimkan ke Mekkah, Kufah, Basra dan Syam dan Mushaf asli yang disuruh saat kekhalifahan Abu Bakar di simpan kembali kepada Hafshah binti Abu Bakar dan mushaf yang sudah ada sebelum adanya penerbitan resmi dari khalifah Utsman bin Affan dibakat untuk dibakar agar menghindar perselisihan.
Pada enam tahun terakhir banyak persoalan dalam negeri dimana banyak praktek KKN di pemerintahan Utsman bin Affan sehingga terjadi pergeseran nilai dalam kehidupan islam. Terjadi ketidak puasan dimana-mana sehingga terjadi pemberontakan-pemberontakan di berbagai daerah dan pendorong timbulnya berasal dari Mesir dan timbulnya fitnah yang dipelopori oleh Abdullah bin Saba. Dari fitnah inilah puncak yang sebenarnya yang menyebabkan pemberontakan pecah dan tidak terkendali. Hingga pada akhirnya pada tanggal Shubuh Jum’at bulan Dzulhijah tahun 35 H bertepatan dengan 17 Juni 656 M ketika menemukan gerbang rumah Khalifah Utsman bin Affan yang dijaga ketat oleh para pendukungnya, pemberontak Mesir memanjat dinding belakang dan merayap masuk ke kamar Khalifah Utsman dan mengepung kamar Khalifah Utsman Bin Affan dan mencoba membinasakan siapa saja orang yang ada di rumah Khalifah Utsman dan pada akhirnya Khalifan Utsman Meninggal dunia pada saat ia sedang membaca ayat Al-qur’an dan dimakamkan di pemakaman Baqi’.
Khalifah Ali bin Abi Thalib(Lahir 15 September 601 M dan wafat 29 Januari 661 M) adalah putera dari paman Rasulullah SAW yaitu Abu Thalib dan ia orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Ia diangkat sebagai khalifah saat jenazah khalifah Utsman bin Affan dimakamkan saat ia terbinuh oleh.....pada malam jum'at tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H. Pada awalnya Ali bin Abi Thalib menolak di baiat oleh kaum muslimin, beliau menghindar beliau pun pergi ke rumah milil Bani Amru bin Al-Mabdzul. Akhirnya Ali bersedia menerima jabatan itu dan peristiwa itu terjadi pada tanggal 19 Dzulhijjah 35 H.
Sistem dan kebijakan pemerintahan pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib adalah diantaranya: dalam strategi kepemimpinannya khalifah Ali ia memecat pejabat yang diangkat khalifah Utsman, memberikan tunjangan kepada kaum muslimin yang diambil dari baitul mal, mengatur tata laksana pemerintahan untuk mengambil kepentingan umat, meninggalkan Madinah dan menjadikan Kufah sebagai pusat pemerintahan; Hubungan khalifah Ali dengan rakyat dimana khalifah Ali selalu berupaya untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat; ekspansi wilayah tidak dilakukan karena banyak pergolakan dan masalah berat dalam pemerintahan khalifah Ali.
Peristiwa penting pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib yaitu ada beberapa peristiwa yaitu; Perang Jamal yang terjadi antara pihak Ali bin Abi Thalib dengan pihak Siti Aisyah RA, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam dimana pada peristiwa ini asal mulanya tentang kesepakatan agar secepatnya melaksanakan qishash terhadap pembunuhan Utsman bin Affan, tetapi karena diperkeruh oleh kaum munafik dan akibat kejadian tersebut keadaan tidak terkendali dan terjadilah peperangan dimana pada saat itu Siti Aisyah memimpin perang dengan mengendarai unta dan khalifah Ali berpesan agar mereka tidak melukai Aisyah; perang Shiffin dan Tahkim, terjadi karena dendam lama pengikut Abdullah bin Saba terhadap Muawiyah bin Abu Sufyan dan karena ia itu ia mengahasut kelompok Muawiyah seperti dulu ia menghasut para pemberontak untuk memberontak kepada kekhalifahan Utsman, kemudia tersulutlah Muawiyah dengan siasat agar pembunuhan Utsman segera terusut dan meletuslah perang Shiffin antara pihak Muawiyah bin Abi Sufyan dan khalifah Ali bin Abi Thalib, akhir dari peperangan tersebut pihak Muawiyah terdesak dan pada akhirnya pihak Muawiyah mengajukan Tahkim. Peristiwa tahkim tersebut melibatkan utusan dari pihak Ali bin Abi Thalib adalah Abu Musa Al-Asy'ari dan dari pihak muawiyah adalah Amr bin Ash. Namun peristiwa tahkim tersebu tidak membuahkan hasil karena pihak Muawiyah malah melakukan kecurangan dengan melakukan siasat hingga akhirnya pihak Muawiyah yang keluar sebagai pengganti khalifah Ali dengan sebelah pihak hingga pada akhirnya terpecah belahlah kaum muslimin menjadi tiga yaitu Kaum yang mendukung khalifah Ali bin Abi Thalib, kelompok Muawiyah bin abu Sufyan dan kaum khawarij; perang Nahrawan, setelah peristiwa tahkim kaum khawarij menolak adanya peristiwa tahkim dan membunuh siapa saja yang terlibat dalam tahkim. Saat khalifah Ali bin Abi Thalib mempersiapkan pasukan untuk memerangi kaum Syam dan terdengar kaum Khawarij melakukan keonaran dimana-mana sehingga mengalihkan ekspedisi tersebut. Hingga akhirnya meletuslah peperangan dengan kaum khawarij yang dimana pada saat itu pasukan dari khalifah Ali bin Abi Thalib yang berjumlah banyak lebih banyak dengan mudahnya pasukan khalifah Ali bin Abi Thalib melumat habis kaum khawari yang berjumlah 1000 orang. Peperangan ini terjadi pada bulan sya'bam tahun 38 Hijriah.
Setelah pecahnya perang Nahrawan kaum khawarij berkumpul yaitu Abdurrahman bin Muljam, Al-Bark bin Abdillah, dan Amr bin Bakar At-Tamimi. Mereka mengadakan pertemuan di Makkah untuk membahas pembunuhan tiga tokok besar yaitu khalifah Ali bin Abi Thalib Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Amr bin Ash. Mereka bersekongkol dan akan menyerang korban pada tanggal 17 Ramadhan malam jum'at. Pada saat itu Khalifah Ali bin Abi Thalib berhasil dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam sedangkan sasaran yang lainnya lolos dari pembunuhan. Pada saat khalifah Ali telah dibunuh, Orang-orang menyerang ibnu Muljam dan menangkapnya. Di tengah kondisi yang tegang khalifah Ali menyuruh Ja'dah bin Hurairah bin Wahab untuk mengimami shalat shubuh dan khalifah Ali wafat dalam keadaan syahid.
Setelah meninggalnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, maka penduduk Kuffah kemudian membaiat Hasan bin Ali sebagai Khalifah (Lahir 1 Desember 624 M dan Wafat pada 1 April 670 M) agar kepemimpinan tidak kosong. Tetapi perbuatan tersebut menyebabkan Muawiyah bin Abu Sufyan geram karena dari dulu ia ingin menduduki sebagai khalifah. Dan seharusnya momentum wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib bisa mengakuisisi pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Pada akhirnya Khalifah Hasan bin Ali yang hanya menjabat sebagai khalifah kurang lebih dua bulan pada tahun 661 M kemudian memberikan kepemimpinannya kepada Muawiyah bin Abu Sufyan karena miris melihat keadaan kaum muslimin saat itu dan satu-satunya cara dan jalan tengah untuk meredakan kekacauan ini adalah dengan memberikan kekuasaannya kepada Muawiyah bin Abi Sufyan. Dan berakhirlah kepemimpinan Khulafaur-Rasyidin yang coraknya menganut demokratis dan berubah menjadi Monarchy Absolut oleh Muawiyah bin Abu Sufyan yang kita kenal kemudian menjadi Kekhalifahan Umayah.
Komentar
Posting Komentar