Peradaban Islam pada Masa Dinasti Turki Utsmani
Bermula pasca pembubaran Kesultanan Rum yang dipimpin oleh Dinasti Saljuk Turki. Pada tahun 1300-an, Anatolia terpecah menajdi beberapa negara merdeka yang disebut emirat Ghazi. Emirat Ghazi ini yang merupakan cikal bakal pendirian Dinasti Kesultanan Turki Utsmani yang dipimpin oleh Oesman I (1258-1326 M). Nama kerajaan Turki Utsmani diambil dan dibangsakan oleh nenek moyang mereka yang pertama yaitu Sultan Utsmani Ibnu Sauji ibnu Orthogol Ibnu Sulaiman Syah Ibnu Kia Alp, kepala kab di Asia Tengah. Turki Utsmani berkuasa sejak abad ke-13 sampai abad ke-19. Raja pertama Turki Utsmani adalah Utsman dengan gelar Padisya Alu Utsman atau Raja dari keluarga Utsman dan beribukota di Konstantinopel setelah kemudian di duduki oleh Dinasti Turki Utsmani.
Dalam masa lebih darin 6 abad berkuasa (699-1343 H/1282-1924 M) menurut C.E. Boswort. Dinasti Utsmani mempunyai Sultan dan Khalifah yang berjumlah 37 orang. Diantara banyaknya Sultan tersebut yang paling terkenal pada masa Sultan Muhammad II atau Sultan Muhammad Al-Fatih dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni.
Pada masa Sultan Muhammad Al-Fatih, Dinasti Turki Utsmani mengalami puncak kejayaan. Ia mengalahkan Byzantium dan menaklukan Konstantinopel pada tahun 1453 M. Kemenangan tersebut sudah disebutkan jauh-jauh hari oleh Nabi SAW. Dimana dalam hadisnya yang artinya:
“ Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata, saat kami dengan menulis di sekeliling Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya tentang kota manakah dari kedua kota yang akan dibebaskan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma? Maka Rasulullah SAW menjawab, kota Heraclius akan dibebaskan terlebih dahulu” maksudnya adakah Konstanstinopel” (H.R Ahmad)
Dan kemenangan tersebut benar-benar terjadi dimana kejatuhan Konstantinopel jatuh ke tangan Islam pada hari Kamis, 26 Rabi’ul Awwal 857 M/6 April 1453 M dibawah pasukan dan komando Sultan Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih.
Sepanjang abad ke-16 dan 17, tepatnya pada puncak kekuasaan dibawah pemerintahan Sultan Sulaiman Al-Qanuni dimana kesultanan Utsmaniyah adalah salah satu negara terkuat di dunia, imperium multinasional dan multibahasa yang mengendalikan sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat/Kaukakus, Afrika Utara, dan Tanduk Afrika.
Pada perkembangannya, Kesultanan Turki Utsmani berkembang mulai tahun 1453-1683 M. Dengan diawali pada masa perluasan dan puncak pada tahun 1453 M-1566 M dan kemudian pada masa pemberontakan dan pemulihan pada tahun 1566-1683 M. Kemudian berlanjut pada masa kemandekan dan reformasi pada tahun 1683 M-1827 M. Berlanjut oada maa kemunduruan dan modernisasi pada tahun 1828-1908 hingga berakhir pada masa kekalahan dan pembubaran pada tahun 1908-1922 M yang diprakarsai oleh Mustafa Kemal At-Taturk yang menjadikan Turki sebagai negara republik sekuler.
System kebudayaan Turki Utsmani sendiri menurut Philip K. Hittty berasala dari kebudayaan Persia, Kondisi alam Asia Tengah, hasil perpaduan dengan kebudayaan Byzantium, dan bangsa Arab sendiri sebagai guru pertama dari Dinasti Turki Utsmani. Bentuk kekuasaan dari Dinasti Turki Utsmani sendiri adalah dengan penerapannya adalah adanya Sultan dan kekuasaan mutlak, gelar Sultan, putra mahkota, para pembantu Sultan, para pejabat tinggi negara non Turki, dan hak guna tanah. Pada dinas ketentaraannya sendiri tidak terlepas dari asal-usul tentara Utsmani dan perkumpulan Inkisyariyyah dikarenakan tentara Utsmani sendiri kurang rapi dalam segi susunan organisasinya maja dibentuk ketentaraan yang ketat oleh Urkhan dengan membentuk tentara baru dari orang-orang non-Turki dan terkenallah ketangguhan pasukan Inkisyariyyah walaupun pada akhirnya ditumpas karena menjadi sumber petaka bagi negeri sendiri.
Kemajuan dan peradaban pada masa Dinasti Turki Utsmani sangatlah besar yang tidka bias disebutkan satu persatu mengingat masa pemerintahan Dinasti Kesultanan Turki Utsmani sendiri sangatlah lama dan menyeluruh kepelosok dunia. Diantaranya bukti sejarah dan peninggalan Kerajaan Turki Utsmani adalah Masjid Biru (Masjid Sultan Ahmed), Masjid Sulaiman, Istana Topkapi, Istana Dolmabahce, Jembatan Stari Most di Mostar, dan Jembatan Mehmed Pasha Sokolovic du Visegrad.
Masa kemunduran dari Kesultanan Turki Utsmani sendiri adalah setelah wafatnya Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1556 M), Kesultanan Turki Utsmani perlahan-lahan mulai memasuki fase kemunduran. Faktor kemunduran tersebut diantaranya karena perluasan wilayah kekuasaan, merosotnya perkenomian negara, stagnansi di bidang ilmu dan teknologi, pemberontakan Jenissary dan Iskinsyariyah, Kebobrokan Kostantinopel, budaya pungli, Para putri istana, dedikasi moral, mengabaikan kesejahteraan masyarakat, dan gerakan nasionalisme.
Disini yang paling menarik adalah dalam segi gerakan nasionalisme yang menjadi runtunya kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani dengan diprakarsai oleh Mustafa Kemal At-Taturk. Berbagai konspirasi dan upaya-upaya yang dilakukan untuk meruntuhkan kekhalifahan Turki Utsamani yang pada saat itu sultan terakhirnya adalah Sultan Hamid II. Dengan berbagai upaya akhirnya runtuhlah kekuasaan Dinasti Turki Utsmani dan berdirilah negara sekuler Turki tepat pada tanggal 3 Maret 1924 dengan Mustafa Kemal At-Taturk sendiri yang menjadi presiden pertama Republik Turki.
Komentar
Posting Komentar